TAK ADA YANG ANGKAT TANGAN!!!
(Kisah nyata anak Gaza)
By Wawan Herman Husdiawan
Ini
kisah nyata tentang anak anak TK (Taman Kanak Kanak) di Gaza,
Palestina. Cerita ini dituturkan oleh Ka Bambang Bimo Suryono salah
seorang pencerita muslim terbaik juga guru saya yang pernah ke jalur
Gaza beberapa waktu lalu.
Begini
kisahnya, suatu hari Ka Bimo mendatangi TK di jalur gaza untuk
menyalurkan bantuan dari Indonesia. Sekolah yang didatangi bernama TK
Annajmul Quran ( TK Bintang Quran). Sekolah ini terdiri dari 7 orang
guru yang kesemuanya hafal Quran. Murid mereka berjumlah 163 orang anak
yang merupakan anak yatim piatu korban perang.
Saat
didatangi dan dibawakan bantuan tak satupun dari 163 anak korban perang
yang menengadahkan tangan untuk meminta (mengemis), "Saya minta, saya
minta roti!" Kalimat seperti ini sama sekali tidak ada. Mungkin tidak
ada kamus meminta bagi anak anak palestina. Padahal mereka sangat layak
diberi, betul?
Lalu saat Ka Bimo hendak bercerita pada anak TK disana. Beliau mengawali dengan memberikan beberapa pertanyaan,
"Siapa diantara kalian yang ingin jadi dokter?" Tanya Ka Bimo
Ada tiga anak perempuan yang malu malu mengangkat tangan ingin jadi dokter.
"Siapa yang ingin jadi pemain sepak bola?" Tanya Ka Bimo lagi.
Riuuuuuh 6 - 7 anak anak laki laki ankgat tangan.
"Saya, saya, saya" Teriak mereka semangat.
Ketika
ditanya keinginan menjadi penyanyi, juga jadi presiden tak satupun
angkat tangan. Awalnya Ka Bimo sempat berprasangka buruk bahwa anak
palestina sudah tidak berani bemimpi.
Lalu pertanyaan terakhir, ini paling menarik dan banyak hikmahnya untuk kita.
"Siapa yang ingin syahid fisabilillah?" Tanya Ka bimo dengan penuh semangat.
Mungkin anda mengira akan banyak anak anak TK yang rata rata sudah hafal Quran itu angkat tangan, betul?
Tapi nyatanya tidak ada satupun diantara mereka yang angkat tangan, tidak ada!
Anak
anak soleh, dan soleha para penjaga Al Aqsa itu tidak sekedar angkat
tangan tapi mereka semua kompak, tanpa aba aba, tanpa komando, mereka
semua tanpa terkecuali spontan berdiri sambil kepalkan tangan dan
berseru,
"Aku mau syahid, aku mau syahid, aku mau syahid
"
Jawaban itu diteriakkan lantang dengan penuh keyakinan,
"Aku mau syahid menyusul ayahku di syurga, aku mau syahid seperti pamanku, aku mau syahid seperti kakakku
"
Kata
kata itu diteriakkan keras dan tanpa ragu dari lisan penghafal Quran
yang masih alfa tanpa dosa. Seketika Ka Bimo mundur, tak tahan tangisan
beliau pun pecah, dadanya guncang karena mendengar dan menyaksikan cita
cita tertinggi mereka yaitu syahid fisabilillah. Bukankah ini impian
tertinggi seorang mukmin? Dan itu diteriakkan oleh anak tak berdosa
dengan mata merah menyala tanda keberanian yang luarbiasa.
Tidak selesai sampai disitu, Ka Bimo bertanya lagi,
"Siapa yang ingin syahid lebih dahulu?" Kali ini jawaban mereka lebij dahsyat lagi
"Saya
saya saya!" Teriak mereka sambil kepalkan tangan bahkan anak anak yang
tadinya hanya berdiri kini naik ke kursi agar lebih terlihat oleh
penanya bahwa impian tertinggi mereka adalah syahid fisabilillah lebih
awal. 
Siapa
yang tidak merinding, berguncang dan menangis menyaksikan peristiwa
yang mungkin tidak terjadi di tempat lain selain di bumi Allah
Palestina.
Ayah bunda, bagaimana menurut anda kejadian ini?
Pertanyaannya
kira kira bagaimana cara mereka dididik? Apa yang dilakukan orangtua
mereka? Sehingga masih TK saja sudah sedemikian indah cita citanya. Mati
syahid itu kalau benar niat dan caranya pasti garansi syurga,anak
palestina paham ini. Sejatinya semua yang mengaku beriman pada Allah
cita citanya adalah syahid fisabilillah.
Sekali lagi kira kira apa yang dilakukan orangtua palestina dalam mendidik anaknya?
Entahlah,
satu hal yang saya tahu ini saya dengar dari seorang ayeikh asal
palestina saat kunjungannya ke NTB. Beliau mengatakan ada dua ruh utama
bagaimana anak Palestina dididik orangtuanya:
1. Al Quran
Sejak 0 tahun sudah didengarkan Al Quran, diajarkan Al Quran dan didik dengan Al Quran.
2. Kisah Kisah
Anak
anak disana dikisahkan cerita dari Al Quran, dikisahkan cerita para
nabi, sahabat dan orang orang soleh terdahulu. Ini sangat merasuk
dijiwanya.
Ujar salah seorang syeikh palestina. Sudah kah kita sungguh sungguh melakukan dua hal diatas?
Ahhhh
membayangkan semua anak anak Taman Kanak Kanak tanpa dikomandoi bercita
cita mati syahid demi agamanya itu sungguh sangat istimewa.
Semoga buah hati kita kelak memiliki ruh Al Quran, dan menjadi pejuang Al Quran seperti anak anak palestina. Aamiin.




































