PRIBUMI
Saat Nabi Muhammad SAW dan para shahabatnya hijrah dari
Mekkah, mereka disambut baik oleh PRIBUMI Madinah. Para pribumi
memberikan rumah, harta, lapangan kerja bahkan jodoh bagi para
pendatang, Nabi dan para shahabatnya.
Indahnya
hubungan PRIBUMI dan PENDATANG itu direkam dalam sejarah, yang kemudian
akrab kita kenal dengan persahabatan kaum Muhajirin dan Anshar. Mengapa
mereka bisa begitu ramah bersahabat dan saling bersaudara?
Sebagai
PENDATANG, Nabi Muhammad SAW memberikan keuntungan yang besar. PRIBUMI
Madinah (suku Auz dan Khazraj) sebelumnya selalu berperang. Dengan
hadirnya Nabi SAW, mereka hidup rukun dan damai dalam agama baru, yaitu
Islam.
PENDATANG itu juga mampu membebaskan PRIBUMI dari jerat perbudakan orang-orang Yahudi saat itu di Madinah.
Yang paling agung, ajaran yang dibawa PENDATANG itu membawa kehidupan yang lebih baik bagi mereka, baik dunia maupun akhirat.
Allah SWT berfirman:
اِنَّ
الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۙ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ
اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا ۢ
بَيْنَهُمْ ؕ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ
سَرِيْعُ الْحِسَابِ
"Sesungguhnya agama di sisi
Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi
Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di
antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka
sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya."
(QS. Ali 'Imran: Ayat 19)
Di
dunia mereka disatukan dalam indahnya persaudaraan. Tak boleh ada cela,
tak boleh ada maki. Sementara di akhirat, dengan mengimani ajaran
PENDATANG itu, mereka dapat selamat dari ancaman siksa api neraka.
PENDATANG
yang dipimpin Nabi Muhammad SAW itu membawa ajaran yang melarang:
membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, mencuri, berzina, riba dan
berbagai tindak kejahatan yang merugikan kehidupan mereka.
PENDATANG
itu mengajari mereka kecintaan terhadap AKHIRAT dan bagaimana bersikap
yang benar terhadap DUNIA. Ajaran PENDATANG itu mengajak mereka keluar
dari HAMBA DUNIA, untuk kemudian mempersiapkan diri demi kehidupan kekal
di akhirat.
Besarnya
manfaat yang diperoleh dari PENDATANG itu, membuat PRIBUMI sangat
mencintai PENDATANG. Bentuk kecintaan mereka di antaranya:
PRIBUMI
sanggup seia-sekata bersama-sama PENDATANG dengan dipimpin oleh Nabi
Muhammad SAW. Dalam perang Badar, di mana awalnya mereka tidak siap
untuk berperang, kaum PRIBUMI diwakili Sa’d bin
Muad menyatakan kesetiaannya kepada apapun yang diperintahkan Nabi SAW.
“Wahai
Rasulullah, Allah telah mengutusmu, dan kami telah mengimani itu.
Engkau memerintah, dan kami akan taat. Engkau melarang, kami akan
menahannya. Wahai Rasulullah, kami telah memberikan baiat kepadamu bahwa
kami akan selalu setia bersamamu, apapun keadaannya.
Demi
Allah, jika engkau menyebrangi lautan, kami akan ikut bersamamu. Hari
ini adalah hari di mana Allah menunjukkan kepadamu bahwa kami (PRIBUMI)
adalah lelaki sejati, dan kami akan selalu pegangi ucapan kami. Demi
Allah, kami akan taat bila engkau memerintahkan kami untuk ikut
berperang.”
Pada perang
Hunain, PRIBUMI Madinah juga rela tidak mendapatkan bagian apapun dari
rampasan perang, sementara orang lain yang baru masuk Islam diberi harta
yang banyak oleh Nabi SAW.
Memang
awalnya mereka sempat mengeluh. Namun Nabi SAW dengan bijak menjelaskan
kepada mereka bahwa harta itu diberikan agar orang-orang yang baru
masuk Islam itu semakin kuat imannya.
Adapun
kepada PRIBUMI Madinah, Nabi SAW tidak memberikan apa-apa karena Nabi
yakin iman mereka telah kuat. Nabi SAW juga menyebutkan kecintaaannya
kepada PRIBUMI Madinah, dan akan tetap tinggal bersama mereka.
Akhirnya
kaum PRIBUMI Madinah sadar. Mereka menyatakan ridha, pulang “hanya “
membawa Nabi SAW sementara orang lain membawa tumpukan harta. Mereka
menangis dan menyesal karena sebelumnya telah mengeluh.
Allah SWT berfirman:
وَالسّٰبِقُوْنَ
الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ
اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍ ۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ
وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ
فِيْهَاۤ اَبَدًا ؕ ذٰ لِكَ الْـفَوْزُ الْعَظِيْمُ
"Dan
orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di
antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada
Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah
kemenangan yang agung."
(QS. At-Taubah: Ayat 100)
Kaum
PRIBUMI sangat mencintai para PENDATANG yang hijrah dari MEKKAH. Rumah
mereka bagi agar bisa ditinggali PENDATANG. Demikian juga harta, mereka
berbagi bersama para PENDATANG.
Bahkan
yang punya istri lebih daripada satu, PRIBUMI menawarkan kepada
PENDATANG untuk memilih mana yang disukai, nanti akan diceraika agar
dapat dinikahi oleh PENDATANG.
Di
sisi lain, PENDATANG juga tidak kemaruk. Mereka juga tahu diri.
Abdurrahman bin Auf, misalnya tidak mau bergantung pada pemberian
PRIBUMI. Ia hanya minta ditunjukkan pasar, agar ia bisa berdikari dan
mencari uang sendiri.
Begitulah,
sebenarnya saat Islam masuk Madinah, tak ada lagi istilah PRIBUMI dan
PENDATANG. Istilah Anshar dan Muhajirin hanya untuk membedakan “siapa”
telah “berperan apa.” Selebihnya, mereka menjadi umat yang satu, kaum
Muslimin.
Indahnya
kehidupan PRIBUMI dan PENDATANG di atas hanya terjadi pada masa Islam.
PRIBUMI membuka dua tangannya, memberikan segala yang diperlukan
PENDATANG.
PENDATANG pun
tahu diri, tidak mentang-mentang PRIBUMI bersikap baik hati, kemudian
kemaruk dan ingin menguasai tanah dan harta PRIBUMI. Tidak ada INVASI
berkedok INVESTASI. Kedua belah pihak sama-sama tulus. Semua keindahan
itu hanya ada dalam ajaran I-S-L-A-M.